Laman

Mengenai Saya

Foto saya
Makassar, Sulawesi Selatan, Indonesia

Senin, 11 Juli 2011

Kalimat Efektif: Penekanan, Kehematan, dan Kevariasian Kata Dalam Kalimat

BAB I
PENDAHULUAN

Kalimat dikatakan efektif apabila berhasil menyampaikan pesan, gagasan, perasaan, maupun pemberitahuan sesuai dengan maksud si pembicara atau penulis. Untuk itu penyampaian harus memenuhi syarat sebagai kalimat yang baik, yaitu strukturnya benar, pilihan katanya tepat, hubungan antarbagiannya logis, dan ejaannya pun harus benar.
Dalam hal ini hendaknya dipahami pula bahwa situasi terjadinya komunikasi juga sangat berpengaruh. Kalimat yang dipandang cukup efektif dalam pergaulan, belum tentu dipandang efektif jika dipakai dalam situasi resmi, demikian pula sebaliknya. Misalnya kalimat yang diucapkan kepada tukang becak, “Berapa, Bang, ke pasar Rebo?”  Kalimat tersebut jelas lebih efektif daripada kalimat lengkap, “Berapa saya harus membayar, Bang, bila saya menumpang becak Abang ke pasar Rebo?”
Yang perlu diperhatikan oleh para siswa dalam membuat karya tulis, baik berupa essay, artikel, ataupun analisis yang bersifat ilmiah adalah penggunaan bahasa secara tepat, yaitu memakai bahasa baku. Hendaknya disadari bahwa susunan kata yang tidak teratur dan berbelit-belit, penggunaan kata yang tidak tepat makna, dan kesalahan ejaan dapat membuat kalimat tidak efektif.
BAB II
PEMBAHASAN

1.      Penekanan Kata dalam Kalimat
Penekanan dalam kalimat adalah upaya pemberian aksentuasi, pementingan atau pemusatan perhatian pada salah satu bagian kalimat, agar bagian yang diberi penekanan itu lebih mendapat perhatian dari pendengar atau pembaca. Bagian kalimat yang penting perlu diberi penekanan atau penegasan agar maksud kalimat secara keseluruhan dapat dipahami.
Adapun cara untuk penekanan kata, antara lain:
ü  Mengubah posisi kata dalam kalimat, yakni dengan cara meletakkan bagian yang penting di awal kalimat. Contoh:
1.      Harapan kami adalah perencanaan pendidikan gratis segera dicanangkan pemerintah.
2.      Pada kesempatan lain, kita akan membahas masalah ini.

ü  Menggunakan partikel. Penekanan bagian kalimat dapat menggunakan partikel –lah, -pun, dan –kah. Contoh:
1.      Andalah yang harus bertanggungjawab soal itu.
2.      Bisakah dia menyelesaikannya?
3.      Kami pun berangkat dengan segera.

ü  Menggunakan repetisi, yakni mengulang-ulang kata yang dianggap penting. Contoh:
-          Dalam membina hubungan antara suami istri, antara guru dan murid, antara orang tua dan anak, antara pemerintah dan rakyat, diperlukan adanya komunikasi dan sikap saling memahami antara satu dan lainnya.

ü  Menggunakan pertentangan, yakni menggunakan kata yang bertentangan atau berlawanan makna/maksud dalam bagian kalimat yang ingin ditegaskan. Contoh:
1.      Anak itu tidak malas, tapi rajin.
2.      Ia tidak membela satu partai pun, melainkan berada di pihak netral.

ü  Penekanan kata dengan intonasi. Caranya adalah dengan memberi tekanan yang lebih keras kepada salah satu unsur atau bagian kalimat yang ingin ditegaskan. Contoh:
-          Fadil membaca komik Conan di kamar.
-          Fadil membaca komik Conan di kamar.
-          Fadil membaca komik Conan di kamar.
-          Fadil membaca komik Conan di kamar.
Apabila tekanan diberikan pada kata Fadil maka kalimat itu berarti ‘yang membaca komik Conan di kamar adalah Fadil, bukan orang lain’. Apabila tekanan diberikan pada kata membaca maka kalimat itu berarti ‘yang dilakukan Fadil di kamar adalah membaca, bukan pekerjaan lain’. Apabila tekanan diberikan pada kata komik Conan maka kalimat itu berarti ‘buku yang dibaca Fadil di kamar adalah komik Conan, bukan buku atau komik lain’. Apabila tekanan diberikan pada kata di kamar maka kalimat itu berarti
tempat Fadil membaca komik Conan adalah di kamar, bukan di tempat lain’.

ü  Menggunakan kata keterangan. Keterangan penegas yang lazim digunakan untuk memberikan penekanan adalah kata memang, apalagi, bahkan, dan lebih-lebih lagi. Contoh:
1.      Mencari pekerjaan di Jakarta tidak semudah yang kamu bayangkan apalagi kalau kamu tidak punya koneksi.
2.      Kikirnya bukan main, bahkan untuk makan sendiri dia enggan mengeluarkan uang.
3.      Memang dialah yang belum tahu.

ü  Menggunakan kontras makna. Penekanan dengan kontras makna dilakukan terhadap kalimat majemuk setara. Makna klausa pertama dari kalimat tersebut menjadi terasa lebih tegas karena dikontraskan atau dipertentangkan dengan makna pada klausa kedua. Contoh:
1.      Eva berurai air mata pada saat orang bergembira ria.
2.      Dia dengan mudah mendapat uang seratus ribu rupiah sehari, kita mencari seratus rupiah saja sulit.
3.      Rata-rata penduduk di negeri ini kaya raya padahal tanah mereka tandus dan gersang.

ü  Menggunakan bentuk pasif. Penekanan dalam bentuk kalimat pasif dibentuk dengan maksud untuk lebih menegaskan peranan objek penderita. Contoh:
1.      Ali dan Hasan dimarahi dosen. (Kalimat asalnya ‘Dosen memarahi Ali dan Hasan)
2.      Pohon tua itu ditebang kakek kemarin. (Kalimat asalnya ‘Kakek menebang pohon tua itu kemarin)
3.      Buku itu sudah saya baca. (Kalimat asalnya ‘Saya sudah membaca buku itu’)
4.      Bangunan tua itu harus kami bongkar. (Kalimat asalnya ‘Kami harus membongkar bangunan tua itu’)

2.      Kehematan Kata dalam Kalimat
Kehematan adalah adanya hubungan jumlah kata yang digunakan dengan luasnya jangkauan makna yang diacu. Sebuah kalimay dikatakan hemat bukan karena jumlah katanya sedikit, sebaliknya dikatakan tidak hemat kerena jumlah katanya terlalu banyak. Yang utama adalah seberapa banyakkah kata yang bermanfaat bagi pembaca atau pendengar. Dengan kata lain, tidak usah menggunakan belasan kata, kalau maksud yang dituju bisa dicapai dengan beberapa kata saja. Oleh karena itu, kata-kata yang tidak perlu bisa dihilangkan. Untuk penghematan kata-kata hal-hal berikut perlu diperhatikan.
ü  Menghilangkan pengulangan subjek yang sama pada anak kalimat. Contoh:
1.      Pemuda itu segera mengubah rencananya setelah dia bertemu dengan pemimpin perusahaan.
2.      Hadirin serentak berdiri begitu mereka mengetahui mempelai memasuki ruangan.
Seharusnya adalah:
1.      Pemuda itu segera mengubah rencananya setelah bertemu dengan pemimpin perusahaan.
2.      Hadirin serentak berdiri begitu mengetahui mempelai memasuki ruangan.

ü  Menghindari penggunaan hiponimi. Contoh:
1.      Bunga-bunga mawar, anyelir, dan melati sangat disukainya.
Pemakaian kata ‘bunga-bunga’ dalam kalimat di atas tidak perlu. Dalam kata ‘mawar, anyelir, dan melati’ sudah mengandung makna bunga. Kalimat efektifnya: Mawar, anyelir, dan melati sangat disukainya.
2.      Rumah penduduk di kota itu terang benderang oleh cahaya lampu neon. Seharusnya: Rumah penduduk di kota itu terang benderang oleh cahaya neon.
3.      Beliau dilahirkan di kota Yogyakarta pada tahun 1924. Seharusnya: Beliau dilahirkan di Yogyakarta pada tahun 1924.

ü  Menghindari penggunaan ‘dari’ dan ‘daripada’. Contoh:
1.      Mobil dari paman saya terbakar. (seharusnya: Mobil paman saya terbakar)
2.      Usul daripada bapak ketua perlu diperhatikan (seharusnya: Usul bapak ketua perlu diperhatikan)


3.      Kevariasian Kata dalam Kalimat
a. Variasi dalam pembukaan kalimat
Ada beberapa kemungkinan untuk memulai kalimat demi efektifitas, yaitu dengan variasi pada pembukaan kalimat. Dalam variasi pembukaan kalimat, sebuah kalimat dapat dimulai atau dibuka dengan :
1)      Frase Keterangan (waktu, tempat, dan cara)
2)      Frase Benda
3)      Frase Kerja
4)      Frase Penghubung

b. Variasi dalam pola kalimat
Demi mencapai sebeuak efektifitas dalam kalimat dan menghindari suasana monoton yang dapat menimbulkan kebosanan, pola kalimat Subjek – Predikat – Objek dapat diubah menjadi Predikat – Objek – Subjek atau yang lainnya.
Contoh :
1) Dokter muda itu belum dikenal oleh masyarakat desa Sukamaju. (S – P- O)
2) Belum dikenal oleh masyarakat desa Sukamaju dokter muda itu. (P – O – S)
3) Dokter muda itu oleh masyarakat desa Sukamaju belum dikenal. (S – O – P)
c. Variasi dalam jenis kalimat
Untuk mencapai efektifitas sebuah kalimat berita atau pertanyaan, dapat dikatakan dalam kalimat Tanya atau kalimat perintah. Perhatikan contoh berikut.
……Presiden SBY sekali lagi menegaskan perlunya kita lebih hati-hati memamakai bahan bakar dan energi dalam negeri. Apakah kita menangkap peringatan tersebut?
Dalam kutipan tersebut terdapat satu kalimat yang dinyatakan dalam bentuk Tanya. Penulis tentu dapat mengatakannya dalam kalimat berita. Akan tetapi untuk mencapai efektifitas, ia memakai kalimat Tanya.
d. Variasi bentuk aktif-pasif
Perhatikan contoh berikut!
a) Pohon pisang itu cepat tumbuh. Kita dengan mudah dapat menanamnya dan memeliharanya. Lagi pula kita tidak perlu memupuknya. Kita hanya menggali lubang, menanam, dan tinggal menunggu buahnya.
Bandingkan dengan kalimat berikut!
b) Pohon pisang itu cepat tumbuh. Dengan mudah pohon pisang itu dapat ditanam dan dipelihara. Lagi pula tidak perlu dipupuk kita hanya menggali lubang, menanam dan tinggal menunggu buahnya.
Kalimat-kalimat pada paragaf (a) semuanya berupa kalimat katif, sedangkan pada paragraph (b) berupa kalimat aktif dan pasif. Dapat dikatakan, bahwa kalimat-kalimat pada paragraf (a) tidak bervariasi sedangkan paragraf (b) bervariasi, namun hanya variasi aktif – pasif.


PENUTUP

Kesimpulan
Kalimat efektif ialah kalimat yang memiliki kemampuan untuk menimbulkan kembali gagasan-gagasan pada pikiran pendengar atau pembaca seperti gagasan yang ada pada pikiran pembicara atau penulis. Kalimat dikatakan efektif apabila berhasil menyampaikan pesan, gagasan, perasaan, maupun pemberitahuan sesuai dengan maksud si pembicara atau penulis.
Ciri-ciri kalimat efektif meliputi:
1.      Kesatuan Gagasan
2.      Kesejajaran
3.      Kelogisan
4.      Kehematan
5.      Penekanan
6.      Kevariasian
DAFTAR PUSTAKA
Putrayasa, Ida Bagus. 2007. Kalimat Efektif (Diksi, Struktur, dan Logika). Singaraja : Refika Aditama

nisa2810: HAKIKAT BAHASA (Bahasa Berdasarkan Asal-Usul, Definisi Bahasa dan Ulasannya, serta Rumusan Definisi Bahasa)

nisa2810: HAKIKAT BAHASA (Bahasa Berdasarkan Asal-Usul, Definisi Bahasa dan Ulasannya, serta Rumusan Definisi Bahasa)

Minggu, 08 Mei 2011

tidak bermaksud menyindir. tetapi bila ada yang merasa hatinya tersengat membaca lirik ini, jangan salahkan saya :D


kemarin kunanti
kehadiran dirimu
kedatangan cintaku

mengapa
tak kunjung tiba
dan ku dengar cerita
kau berdua dengannya

reff:
dimanakah janji indah itu
yang dulu kau ungkap
takkan terbagi yang lain
bila memang kau ingkari
takkan ku menanti

haruskah kau ulangi

haruskah aku mengerti
bila pelangi cinta
berselimutkan dusta

repeat reff

haruskah kusesali
tiada arti lagi
terkadang kusesali
tak ada arti lagi
indahnya meniti mimpi

dimanakah janji indah itu
yang dulu kau ungkap takkan terbagi yang lain

repeat reff

di manakah janji indah itu
takkan ku menanti
oh haruskah harus ku nanti
takkan ku menanti


Source: http://liriklaguindonesia.net/k/kahitna/kahitna-menanti/#ixzz1LpcWgSmv

BELENGGU


Terlalu banyak sekat
Ini terlalu membelenggu
Terlalu sering kaubuka tirai kehidupan
Di antaramu

Ini terlalu membelenggu
Seperti telaga yang tak jernih lagi
Laik hutan yang kehilangan hijaunya
Kau tak bersih lagi, kawan!

Ah! Padahal riuh telah menguar di sana
Mengapa berpaling?

Makassar, 26 April 2011
Ketika aib bukan lagi yang pertama.

Minggu, 17 April 2011

HAKIKAT BAHASA (Bahasa Berdasarkan Asal-Usul, Definisi Bahasa dan Ulasannya, serta Rumusan Definisi Bahasa)


A.   PENDAHULUAN
Potensi rohaniah yang paling istimewa yang dimiliki oleh makhluk yang disebut manusia adalah bahasa, yang dengan bahasa itu manusia dapat saling berinteraksi dan memahami satu dengan yang lainnya. Dengan bahasa, manusia mengelompokkan diri, membuat kelompoknya berbeda dengan yang lainnya untuk saling mengenal. Dengan bahasa pula, manusia mewariskan peradabannya ke generasi berikutnya sepanjang zaman. Makin tinggi tingkat keperluan berhubungan satu sama lain, makin tinggi pula tingkat diperlukannya bahasa yang dapat di pahami bersama.
Bahasa atau language merupakan produksi dari alat-alat bicara manusia ( organ of speech ) digunakan sebagai alat untuk berkomunikasi dan berinteraksi. Bahasa mempunyai arti yang sangat penting dalam kehidupan ini. Bloomfield berkata, language plays a great part in our live ( 1935 : 3 ). Fakta menunjukkan bahwa manusia dapat saja menggunakan alat komunikasi yang lain selain bahasa. Namun, bahasa verbal tetap merupakan alat komunikasi yang paling baik dan sempurna. Meskipun demikian,  tidaklah tepat jika dikatakan bahwa bahasa sebagai alat komunikasi  language is a tool of communication, karena hanya memandang bahasa sebagai alat. Pernyataan seperti ini sangat wajar karena bahasa adalah sebuah fenomena sosial yang dapat dilihat dari berbagai sudut pandang. Hal yang paling mendasar dari suatu bahasa yaitu bahasa adalah lambang-lambang bunyi yang dihasilkan oleh alat-alat bicara manusia yang bersifat arbitrer.

B.   PEMBAHASAN

1.     Pengertian  Bahasa Berdasarkan Asal Usul
Linguistik berarti ilmu bahasa. Kata linguistic berasal dari kata lingua ( bahasa Latin ) berarti bahasa. Kata lingua itu masih dapat dijumpai dalam bahasa-bahasa tertentu yang menyerap bahasa Latin, seperti: dalam bahasa Perancis digunakan kata langue dan langage; dalam bahasa Spanyol digunakan kata langua; dan dalam bahasa Itali digunakan kata lingua. Selain itu, dalam bahasa Inggris, yang dipinjam dalam bahasa Perancis, yang sekarang digunakan kata language.
Sesuai dengan asal bahasa Latin itu, maka linguistik yang berarti ilmu bahasa dikenal sebagai linguistics dalam bahasa Inggris dan sebagai linguistique dalam bahasa Prancis ( Verhaar, 1982:1 ). Dari kedua istilah tersebut, maka lahirlah kata “linguistik” dan “linguistis” dalam bahasa Indonesia. Kata “linguistik” lebih merujuk kepada kata benda atau noun, sedangkan kata  “linguistis” lebih merujuk kepada kata sifat atau adjective.
Secara populer linguistik diartikan sebagai: 1) ilmu tentang bahasa, 2) ilmu yang menjadikan bahasa sebagai objek kajian, 3) telaah ilmiah mengenai bahasa manusia, dan 4) penyelidikan bahasa secara ilmiah. 
Bahasa di dunia ini sangat beragam dan berbeda-beda antara satu dengan yang lain. Setiap bahasa memiliki karakter, ciri, dan keunikannya masing-masing, baik dari segi fonologi, morfologi, maupun sintaksisnya. Akan tetapi, bahasa-bahasa itu juga mempunyai sifat-sifat universal, artinya setiap bahasa memiliki kesamaan-kesamaan yang berlaku secara umum.


2.     Berbagai Definisi Bahasa  dan Ulasannya
Meskipun bahasa merupakan gejala alami dan tidak pernah terlepas dari kehidupan manusia, artinya tidak ada kegiatan manusia yang tidak disertai oleh bahasa, tetapi sulit sekali diberikan definisinya. Hal itu tampak dari beragamnya definisi tentang bahasa itu.
Pada pemaparan berikut ini dikemukakan beberapa definisi bahasa diambil dari berbagai sumber sebagai bahan kajian, di antaranya:
1.      Bahasa adalah alat komunikasi antara masyarakat, berupa lambang bunyi suara, yang dihasilkan oleh alat ucap manusia (Keraf,1984:16)
2.      Bahasa adalah alat yang sistematis untuk menyampaikan gagasan atau perasaan dengan memakai tanda-tanda, bunyi-bunyi, gestur, atau tanda-tanda yang disepakati, yang mengandung makna yang dapat dipahami (Woster’s Third New International Dictionary of the English Language, 1961:1270).
3.      Bahasa adalah sistem lambang bunyi yang arbitrer yang dipergunakan oleh para anggota kelompok sosial untuk bekerjasama, berinteraksi, serta mengidentifikasi diri (Kridalaksana dan Kentjono,1982:2)
4.      Bahasa adalah sistem simbol vokal yang arbitrer yang memungkinkan semua orang dalam suatu kebudayaan tertentu atau orang lain yang mempelajari sistem kebudayaan itu untuk berkomunikasi atau berinteraksi (Finochiaro,1946:8).

 Pengertian Bahasa Menurut Para Ahli

1.      Owen dalam Setiawan (2006: 1), menjelaskan definisi bahasa yaitu language can be defined as a socially shared combinations of those symbols and rule governed combinations of those symbols (bahasa dapat didefinisikan sebagai kode yang diterima secara sosial atau sistem konvensional untuk menyampaikan konsep melalui kegunaan simbol-simbol yang dikehendaki dan kombinasi simbol-simbol yang diatur oleh ketentuan).
2.      Tarigan (1989: 4), beliau memberikan dua definisi bahasa. Pertama, bahasa adalah suatu sistem yang sistematis, barang kali juga untuk sistem generatif. Kedua, bahasa adalah seperangkat lambang-lambang mana suka atau simbol-simbol arbitrer.
3.      Santoso (1990: 1), bahasa adalah rangkaian bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia secara sadar.
4.      Mackey (1986: 12), bahasa adalah suatu bentuk dan bukan suatu keadaan (lenguage may be form and not matter) atau sesuatu sistem lambang bunyi yang arbitrer, atau juga suatu sistem dari sekian banyak sistem-sistem, suatu sistem dari suatu tatanan atau suatu tatanan dalam sistem-sistem.
5.      Wibowo (2001: 3), bahasa adalah sistem simbol bunyi yang bermakna dan berartikulasi (dihasilkan oleh alat ucap) yang bersifat arbitrer dan konvensional, yang dipakai sebagai alat berkomunikasi oleh sekelompok manusia untuk melahirkan perasaan dan pikiran.
6.      Walija (1996: 4), mengungkapkan definisi bahasa ialah komunikasi yang paling lengkap dan efektif untuk menyampaikan ide, pesan, maksud, perasaan dan pendapat kepada orang lain.
7.      Syamsuddin (1986: 2), beliau memberi dua pengertian bahasa. Pertama, bahasa adalah alat yang dipakai untuk membentuk pikiran dan perasaan, keinginan dan perbuatan-perbuatan, alat yang dipakai untuk mempengaruhi dan dipengaruhi. Kedua, bahasa adalah tanda yang jelas dari kepribadian yang baik maupun yang buruk, tanda yang jelas dari keluarga dan bangsa, tanda yang jelas dari budi kemanusiaan.
8.      Pengabean (1981: 5), berpendapat bahwa bahasa adalah suatu sistem yang mengutarakan dan melaporkan apa yang terjadi pada sistem saraf.
9.      Soejono (1983: 01), bahasa adalah suatu sarana perhubungan rohani yang amat penting dalam hidup bersama.
Kesembilan pengertian bahasa di atas hanya sebagai pembanding dari keempat definisi utama sebelumnya yang akan diulas lebih mendalam. Pada umumnya para ahli tersebut mendefinisikan bahasa sebagai alat berkomunikasi, menyampaikan konsep, identitas, dan penghubung rohani.
. Definisi 1) dan 2) menitikberatkan pandangan pada fungsi bahasa itu sebagai alat komunikasi. Sehingga cakupannya cukup luas, segala sesuatu (semua alat) yang dapat digunakan untuk menyampaikan gagasan dan pesan, dianggaplah sebagai bahasa. Keluasan cakupan itu tampak pula bahwa tanda yang dimaksudkan dalam bahasa bukan hanya tanda bahasa (linguistic sign), tetapi juga tanda-tanda ini, termasuk gestur. Sehingga dapat dikatakan semua bunyi suara yang dihasilkan oleh alat ucap manusia, termasuk bunyi siul, batuk, dan sebagainya ditafsirkan sebagai bunyi bahasa.
Berbeda dengan definisi 1) dan 2), definisi 3) dan 4) menitikberatkan pada ciri-ciri atau sifat-sifat bahasa (karakteristik bahasa). Yaitu, a) bahasa merupakan suatu sistem; b) sebagai sistem bahasa bersifat arbitrer; dan c) sebagai sistem arbitrer, bahasa dapat digunakan untuk berinteraksi, baik dengan orang lain maupun diri sendiri.
Sebagai sistem, bahasa memiliki komponen-komponen yang tersusun secara hierarkis. Komponen itu meliputi komponen fonologi, morfologi, sintaksis, wacana, dan semantik. Walaupun setiap komponen itu memiliki komponennya sendiri, tetapi setiap komponen tersebut dapat pula saling memberi arti, saling berhubungan, dan saling menentukan.komunikasi.
Lambang-lambang bahasa yang berupa bunyi itu bersifat arbitrer. Maksudnya, tidak ada ketentuan, atau hubungan antara suatu lambang bunyi dengan benda atau konsep yang dilambangkannya. Umpamanya antara kata atau lambang, yang berupa bunyi, [kuda] dengan bendanya, yaitu sejenis binatang berkaki empat yang biasa dikendarai atau untuk menarik beban.  Kalau memang ada hubungan antara lambang bunyi [kuda] dengan binatangnya itu, tentu orang di Jawa Tengah juga akan menyebutnya kuda, bukannya jaran. Begitu juga orang di London, Inggris, tidak akan menyebutnya yang dieja dengan horse, dan orang di Amsterdam, Belanda, tidak akan menyebutnya yang dieja dengan paard.
Namun, walaupun  lambang-lambang bahasa bahasa bersifat arbitrer, tetapi bila terjadi penyimpangan terhadap penggunaan lambang, pasti akan terjadi kemacetan komunikasi. Bahasa dibentuk oleh kaidah aturan serta pola yang tidak boleh dilanggar agar tidak menyebabkan gangguan pada komunikasi yang terjadi. Kaidah, aturan dan  pola-pola yang dibentuk mencakup tata bunyi, tata bentuk dan tata kalimat. Agar komunikasi yang dilakukan berjalan lancar dengan baik, penerima dan pengirim bahasa harus menguasai bahasanya.










3.        Rumusan Definisi Bahasa
     Setelah mengadakan diskusi dan dengan memperhatikan berbagai definisi dari para ahli, kami merumuskan definisi bahasa sebagai berikut.
Bahasa adalah  suatu sistem lambang bunyi yang arbitrer,  bersifat konversional atau berdasarkan kesepakatan kelompok pemakai bahasa yang digunakan untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan, berinteraksi, dan mengidentifikasi diri.

















C.               PENUTUP

Simpulan
Linguistik berarti ilmu bahasa. Kata linguistic berasal dari kata lingua ( bahasa Latin ) berarti bahasa. Kata lingua itu masih dapat dijumpai dalam bahasa-bahasa tertentu yang menyerap bahasa Latin, seperti bahasa Prancis, Spanyol, dan Itali. Balam bahasa Indonesia dikenal kata linguistik dan linguistis yang dipinjam dari bahasa Inggris dan bahasa Prancis. Kata “linguistik” lebih merujuk kepada kata benda atau noun, sedangkan kata  “linguistis” lebih merujuk kepada kata sifat atau adjective.
Setiap bahasa di dunia terlahir secara alami pada masyarakat pemakainya tanpa adanya suatu sidang khusus, rapat raksasa, ataupun kongres untuk membahas bahasa atau untuk menentukan pelambangan terhadap suatu benda.
 Berdasar pada sifat-sifat bahasa dapat dirumuskan definisi bahasa, yaitu suatu sistem lambang bunyi yang arbitrer,  bersifat konversional atau berdasarkan kesepakatan kelompok pemakai bahasa yang digunakan untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan, berinteraksi, dan mengidentifikasi diri.










DAFTAR PUSTAKA

Chaer, Abdul. 2006. Tata Bahasa Praktis Bahasa Indonesia. Jakarta:    Rineka Cipta.
Hambali. 2008. Linguistik Umum. Makassar: Universitas Muhammadiyah Makassar.
Simatupang, Maurits, dkk. 1979. Bahasa dan Sastra. Jakarta: Depdikbud.
Wardihan. P,  Andi. 2009.Pengantar Linguistik. Makassar: Universitas Negeri Makassar