Laman

Loading...

Mengenai Saya

Foto Saya
Makassar, Sulawesi Selatan, Indonesia

Senin, 11 Juli 2011

Kalimat Efektif: Penekanan, Kehematan, dan Kevariasian Kata Dalam Kalimat

BAB I
PENDAHULUAN

Kalimat dikatakan efektif apabila berhasil menyampaikan pesan, gagasan, perasaan, maupun pemberitahuan sesuai dengan maksud si pembicara atau penulis. Untuk itu penyampaian harus memenuhi syarat sebagai kalimat yang baik, yaitu strukturnya benar, pilihan katanya tepat, hubungan antarbagiannya logis, dan ejaannya pun harus benar.
Dalam hal ini hendaknya dipahami pula bahwa situasi terjadinya komunikasi juga sangat berpengaruh. Kalimat yang dipandang cukup efektif dalam pergaulan, belum tentu dipandang efektif jika dipakai dalam situasi resmi, demikian pula sebaliknya. Misalnya kalimat yang diucapkan kepada tukang becak, “Berapa, Bang, ke pasar Rebo?”  Kalimat tersebut jelas lebih efektif daripada kalimat lengkap, “Berapa saya harus membayar, Bang, bila saya menumpang becak Abang ke pasar Rebo?”
Yang perlu diperhatikan oleh para siswa dalam membuat karya tulis, baik berupa essay, artikel, ataupun analisis yang bersifat ilmiah adalah penggunaan bahasa secara tepat, yaitu memakai bahasa baku. Hendaknya disadari bahwa susunan kata yang tidak teratur dan berbelit-belit, penggunaan kata yang tidak tepat makna, dan kesalahan ejaan dapat membuat kalimat tidak efektif.
BAB II
PEMBAHASAN

1.      Penekanan Kata dalam Kalimat
Penekanan dalam kalimat adalah upaya pemberian aksentuasi, pementingan atau pemusatan perhatian pada salah satu bagian kalimat, agar bagian yang diberi penekanan itu lebih mendapat perhatian dari pendengar atau pembaca. Bagian kalimat yang penting perlu diberi penekanan atau penegasan agar maksud kalimat secara keseluruhan dapat dipahami.
Adapun cara untuk penekanan kata, antara lain:
ü  Mengubah posisi kata dalam kalimat, yakni dengan cara meletakkan bagian yang penting di awal kalimat. Contoh:
1.      Harapan kami adalah perencanaan pendidikan gratis segera dicanangkan pemerintah.
2.      Pada kesempatan lain, kita akan membahas masalah ini.

ü  Menggunakan partikel. Penekanan bagian kalimat dapat menggunakan partikel –lah, -pun, dan –kah. Contoh:
1.      Andalah yang harus bertanggungjawab soal itu.
2.      Bisakah dia menyelesaikannya?
3.      Kami pun berangkat dengan segera.

ü  Menggunakan repetisi, yakni mengulang-ulang kata yang dianggap penting. Contoh:
-          Dalam membina hubungan antara suami istri, antara guru dan murid, antara orang tua dan anak, antara pemerintah dan rakyat, diperlukan adanya komunikasi dan sikap saling memahami antara satu dan lainnya.

ü  Menggunakan pertentangan, yakni menggunakan kata yang bertentangan atau berlawanan makna/maksud dalam bagian kalimat yang ingin ditegaskan. Contoh:
1.      Anak itu tidak malas, tapi rajin.
2.      Ia tidak membela satu partai pun, melainkan berada di pihak netral.

ü  Penekanan kata dengan intonasi. Caranya adalah dengan memberi tekanan yang lebih keras kepada salah satu unsur atau bagian kalimat yang ingin ditegaskan. Contoh:
-          Fadil membaca komik Conan di kamar.
-          Fadil membaca komik Conan di kamar.
-          Fadil membaca komik Conan di kamar.
-          Fadil membaca komik Conan di kamar.
Apabila tekanan diberikan pada kata Fadil maka kalimat itu berarti ‘yang membaca komik Conan di kamar adalah Fadil, bukan orang lain’. Apabila tekanan diberikan pada kata membaca maka kalimat itu berarti ‘yang dilakukan Fadil di kamar adalah membaca, bukan pekerjaan lain’. Apabila tekanan diberikan pada kata komik Conan maka kalimat itu berarti ‘buku yang dibaca Fadil di kamar adalah komik Conan, bukan buku atau komik lain’. Apabila tekanan diberikan pada kata di kamar maka kalimat itu berarti
tempat Fadil membaca komik Conan adalah di kamar, bukan di tempat lain’.

ü  Menggunakan kata keterangan. Keterangan penegas yang lazim digunakan untuk memberikan penekanan adalah kata memang, apalagi, bahkan, dan lebih-lebih lagi. Contoh:
1.      Mencari pekerjaan di Jakarta tidak semudah yang kamu bayangkan apalagi kalau kamu tidak punya koneksi.
2.      Kikirnya bukan main, bahkan untuk makan sendiri dia enggan mengeluarkan uang.
3.      Memang dialah yang belum tahu.

ü  Menggunakan kontras makna. Penekanan dengan kontras makna dilakukan terhadap kalimat majemuk setara. Makna klausa pertama dari kalimat tersebut menjadi terasa lebih tegas karena dikontraskan atau dipertentangkan dengan makna pada klausa kedua. Contoh:
1.      Eva berurai air mata pada saat orang bergembira ria.
2.      Dia dengan mudah mendapat uang seratus ribu rupiah sehari, kita mencari seratus rupiah saja sulit.
3.      Rata-rata penduduk di negeri ini kaya raya padahal tanah mereka tandus dan gersang.

ü  Menggunakan bentuk pasif. Penekanan dalam bentuk kalimat pasif dibentuk dengan maksud untuk lebih menegaskan peranan objek penderita. Contoh:
1.      Ali dan Hasan dimarahi dosen. (Kalimat asalnya ‘Dosen memarahi Ali dan Hasan)
2.      Pohon tua itu ditebang kakek kemarin. (Kalimat asalnya ‘Kakek menebang pohon tua itu kemarin)
3.      Buku itu sudah saya baca. (Kalimat asalnya ‘Saya sudah membaca buku itu’)
4.      Bangunan tua itu harus kami bongkar. (Kalimat asalnya ‘Kami harus membongkar bangunan tua itu’)

2.      Kehematan Kata dalam Kalimat
Kehematan adalah adanya hubungan jumlah kata yang digunakan dengan luasnya jangkauan makna yang diacu. Sebuah kalimay dikatakan hemat bukan karena jumlah katanya sedikit, sebaliknya dikatakan tidak hemat kerena jumlah katanya terlalu banyak. Yang utama adalah seberapa banyakkah kata yang bermanfaat bagi pembaca atau pendengar. Dengan kata lain, tidak usah menggunakan belasan kata, kalau maksud yang dituju bisa dicapai dengan beberapa kata saja. Oleh karena itu, kata-kata yang tidak perlu bisa dihilangkan. Untuk penghematan kata-kata hal-hal berikut perlu diperhatikan.
ü  Menghilangkan pengulangan subjek yang sama pada anak kalimat. Contoh:
1.      Pemuda itu segera mengubah rencananya setelah dia bertemu dengan pemimpin perusahaan.
2.      Hadirin serentak berdiri begitu mereka mengetahui mempelai memasuki ruangan.
Seharusnya adalah:
1.      Pemuda itu segera mengubah rencananya setelah bertemu dengan pemimpin perusahaan.
2.      Hadirin serentak berdiri begitu mengetahui mempelai memasuki ruangan.

ü  Menghindari penggunaan hiponimi. Contoh:
1.      Bunga-bunga mawar, anyelir, dan melati sangat disukainya.
Pemakaian kata ‘bunga-bunga’ dalam kalimat di atas tidak perlu. Dalam kata ‘mawar, anyelir, dan melati’ sudah mengandung makna bunga. Kalimat efektifnya: Mawar, anyelir, dan melati sangat disukainya.
2.      Rumah penduduk di kota itu terang benderang oleh cahaya lampu neon. Seharusnya: Rumah penduduk di kota itu terang benderang oleh cahaya neon.
3.      Beliau dilahirkan di kota Yogyakarta pada tahun 1924. Seharusnya: Beliau dilahirkan di Yogyakarta pada tahun 1924.

ü  Menghindari penggunaan ‘dari’ dan ‘daripada’. Contoh:
1.      Mobil dari paman saya terbakar. (seharusnya: Mobil paman saya terbakar)
2.      Usul daripada bapak ketua perlu diperhatikan (seharusnya: Usul bapak ketua perlu diperhatikan)


3.      Kevariasian Kata dalam Kalimat
a. Variasi dalam pembukaan kalimat
Ada beberapa kemungkinan untuk memulai kalimat demi efektifitas, yaitu dengan variasi pada pembukaan kalimat. Dalam variasi pembukaan kalimat, sebuah kalimat dapat dimulai atau dibuka dengan :
1)      Frase Keterangan (waktu, tempat, dan cara)
2)      Frase Benda
3)      Frase Kerja
4)      Frase Penghubung

b. Variasi dalam pola kalimat
Demi mencapai sebeuak efektifitas dalam kalimat dan menghindari suasana monoton yang dapat menimbulkan kebosanan, pola kalimat Subjek – Predikat – Objek dapat diubah menjadi Predikat – Objek – Subjek atau yang lainnya.
Contoh :
1) Dokter muda itu belum dikenal oleh masyarakat desa Sukamaju. (S – P- O)
2) Belum dikenal oleh masyarakat desa Sukamaju dokter muda itu. (P – O – S)
3) Dokter muda itu oleh masyarakat desa Sukamaju belum dikenal. (S – O – P)
c. Variasi dalam jenis kalimat
Untuk mencapai efektifitas sebuah kalimat berita atau pertanyaan, dapat dikatakan dalam kalimat Tanya atau kalimat perintah. Perhatikan contoh berikut.
……Presiden SBY sekali lagi menegaskan perlunya kita lebih hati-hati memamakai bahan bakar dan energi dalam negeri. Apakah kita menangkap peringatan tersebut?
Dalam kutipan tersebut terdapat satu kalimat yang dinyatakan dalam bentuk Tanya. Penulis tentu dapat mengatakannya dalam kalimat berita. Akan tetapi untuk mencapai efektifitas, ia memakai kalimat Tanya.
d. Variasi bentuk aktif-pasif
Perhatikan contoh berikut!
a) Pohon pisang itu cepat tumbuh. Kita dengan mudah dapat menanamnya dan memeliharanya. Lagi pula kita tidak perlu memupuknya. Kita hanya menggali lubang, menanam, dan tinggal menunggu buahnya.
Bandingkan dengan kalimat berikut!
b) Pohon pisang itu cepat tumbuh. Dengan mudah pohon pisang itu dapat ditanam dan dipelihara. Lagi pula tidak perlu dipupuk kita hanya menggali lubang, menanam dan tinggal menunggu buahnya.
Kalimat-kalimat pada paragaf (a) semuanya berupa kalimat katif, sedangkan pada paragraph (b) berupa kalimat aktif dan pasif. Dapat dikatakan, bahwa kalimat-kalimat pada paragraf (a) tidak bervariasi sedangkan paragraf (b) bervariasi, namun hanya variasi aktif – pasif.


PENUTUP

Kesimpulan
Kalimat efektif ialah kalimat yang memiliki kemampuan untuk menimbulkan kembali gagasan-gagasan pada pikiran pendengar atau pembaca seperti gagasan yang ada pada pikiran pembicara atau penulis. Kalimat dikatakan efektif apabila berhasil menyampaikan pesan, gagasan, perasaan, maupun pemberitahuan sesuai dengan maksud si pembicara atau penulis.
Ciri-ciri kalimat efektif meliputi:
1.      Kesatuan Gagasan
2.      Kesejajaran
3.      Kelogisan
4.      Kehematan
5.      Penekanan
6.      Kevariasian
DAFTAR PUSTAKA
Putrayasa, Ida Bagus. 2007. Kalimat Efektif (Diksi, Struktur, dan Logika). Singaraja : Refika Aditama

1 komentar: